Mengembara pada Kuda Teknologi Hindustan (Kualitas Dunia ??)

lama tak menulis. Lama seklai bahkan, khusu nya di ruangan ini. Kini setelah libur semester, rasanya terpikirkan kembali menulis, ya minimal untuk mengendalikan kembali energi, he he …

Sengaja kutulis judul itu, berkenaan dengan perjumpaanku dengan motor made in Hindustan, TVS Apache
Entah bagus entah tidak hasil teknologi nya, dan jika toh ada bahan bacaan dari sana sini, rasanya tetap belum menutup rasa ingin tahu, atau bahkan menjawab rasa penasaran.

Pertengahan Juli 2014 pun Apache xventure diantar ke rumah
hm penasaran ingin menjajal

Kategori:Hm TVS Ya

ASAL USUL NAMA SUMATERA

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***

Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.
http://www.wacananusantara.org/99/339/asal-usul-nama-sumatra

Kategori:Sejarah Tag:

Pasca Sertifikasi, Profesional kah ?

Sudah 3 tahun ini, sejak 2007, semua guru di Indonesia, pada level manapun disibukan dengan sebuah keharusan “sertifikasi”.  Semua berbondong-bondong mengikuti kegiatan tersebut, demi memenuhi sebuah label yang akan disematkan “Guru profesional”. Sungguh sebuah tujuan mulia, sebab itu artinya jabatan profesi guru, dituntut untuk memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan untuk menjalankan profesinya.

Dengan label profesional ini, semua guru akan dibekali dan memiliki kesadaran profesional, layaknya profesi dokter, pengacara, akuntan atau jabatan profrsi lainnya.

tapi benarkah semua tujuuan tersebut akan dengan mudah berubah sesuai harapan Senayan ? sungguh sulit untuk menjawabnya

to be continued ….

Kategori:pendidikan

Banjir ROB, apakah itu ?

Banjir melanda jakarta lagi, cuma kali ini banjir tidak datang dari hujan di pegunungan, melainkan datang dari arah pantai. rasanya aneh ditelinga, sebab air yang datang dari arah pantai umumnya hanya dikenal AIR PASANG.

Air pasang memang biasa, atau bahsa lain FAMILIER untuk orang yang tinggal di pesisir pantai, seperti daerah Tanjung Priok, Cilincing dan sekitarnya. Tetapi air pasang ketika bulan purnama tgl  23 November 2007 itu sangat luar biasa. Kawasan kali baru, cilincing,  direndam air yang datang dari arah laut.

Bulan purnama tgl 14 setiap bulan pun telah berlalu, tetapi Banjir yang datang dari arah laut tetap tidak terbendung, bahkan sampai dengan minggu kedua bulan Desember. Ada apakah ini gerangan ? Benarkah ini hanya banjir karena Pasang ? Padahal air laut pasang rutinnya selalu terjadi di awal /ahir bulan dan pertengahan bulan.

Kategori:Jakartaku

test

14/04/2009 2 komentar

test pembelajaran wordpress

Kategori:Pernak Pernik Tag:

Kopi Purnama, Bandung

kalau kopi ala Warkop ini enak SEKALI & harganya lumayan ‘nendang’ kalo buat mahasiswa, mak….

Per cangkir Rp 7000 aja. Setuju, rada mahal kan ??. Untungnya, rasa bikin harga layak. Pahitnya gak bikin kesel. Ditambah rotinya juga oke tuh, cocok sama kopi. Bisa pilih rasa roti bakarnya, mau srikaya+mentega, strawberry dll. Wiw…cantiklah.

Yang cantik-cantik emang harus … maknyos! Untuk setangkup roti itu saya keluarin uang Rp 9000. Tersedia banyak pilihan menu. Hati-hati juga buat yang muslim, beberapa menunya ada yang non-halal. Jadi …. nyobain roti-roti berselai standar. ownernya, pa Hendi, dan belum tahu kenapa diberii nama Purnama.

Brand Warkop ini sudah ngetop sejak 1932. Bukanya jam 7 pagi & tutup jam 5 sore. Buka tiap hari sedangkan khusus untuk hari minggu buka sampai jam 2 siang aja. Datanglah di pagi hari karena suasananya bakal lebih dramatis. Banyak opa-opa tempo dulu yang nongkrong di Warkop Purnama. Nampak udah kayak basecamp buat mereka. Kalau yang tertarik sejarah lisan kota Bandung, ajak ngobrol aja sekalian opa-opa itu. Dijual uga kueh lain, misalnya putu pisang, lupis, lepet sambel oncom, kue pisang, dan kembang tahu.

Didepan Warkop Purnama, ada juga Gerobak Mie Kocok, yang rasanya cukup jempolan. Ntar dimakannya di warkop Purnama, bayarnya juga sama. Kompaklah ya. Beda dengan Purnama yang sudah bisa dinikmati sejak jam 7 pagi, Mie Kocok yang ini baru siap melayani pada pukul 9 pagi.

Dateng ke jalan Alkateri no 22 Bandung deket Wedang Ronde.

Sebelah toko gorden.

salam kuliner

sumber http://www.facebook.com/profile.php?id=1060482487&v=feed&story_fbid=58408444285#/note.php?note_id=72438210086&ref=nf

Kategori:Pernak Pernik

Attention

22/03/2009 2 komentar

Assalamu’alaikum Wr Wb
Terima kasih atas kunjungan dan perhatian nya pada tempat dan tulisan-tulisan yang saya buat, baik yang meninggalkan alamat atau komentar ataupun tidak.

Apapun bentuknya itu, saya berterima kasih.

Dalam kesempatan ini, saya hanya berharap,(artinya kalau toh tidak dipenuhi harapan saya, tak menjadi soal. Saya berharap), kepada siapa saja yang memanfaatkan tulisan saya, khususnya yang copy paste, dan hendak dipergunakan di media yang sama (internet), mohon kiranya, cukup dengan memberi tahu akan penggunaannya di alamat ini.

Harapannya cuma satu saja kok, apa yang saya tuliskan ini bermanfaat untuk pengguna Vespa. Sementara sebagian besar materi yang saya tulis, semata berdasar pengalaman otodidak penulis.

Ada sejuta kesulitan dalam menulisnya. sebab prinsipnya saya bukanlah montir, he he . . .

Haturnuhun alias terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Kategori:Curhat, Vespa